A. Contoh Makhluk Hidup yang
Mengalami Perubahan karena
Seleksi Alam
Seleksi Alam
Contoh yang
pertama adalah Jerapah, Jean Lamarck mengambil contoh mengenai panjang leher
jerapah. Menurutnya nenek moyang jerapah dahulu berleher pendek. Pada suatu
ketika terjadilah bencana kekeringan sedemikian rupa sehingga jerapah hanya
dapat memperoleh makanan dengan mengambil daun-daun yang ada di pepohonan.
Karena sering mengambil daun-daun dipohon untuk dimakan, akibatnya leher
jerapah tertarik, makin lama makin panjang. Akhirnya sifat perolehan yang baru
yaitu leher panjang diwariskan pada generasi-generasi berikutnya sehingga
jerapah sekarang berleher panjang.
Sebagai pembanding dengan teori Lamarck, panjang leher jerapah dapat dijelaskan dengan teori Darwin sebagai berikut. Nenek moyang jerapah punya variasi panjang leher, ada yang berleher pendek dan ada yang berleher panjang. Karena terjadi bencana kekeringan, lingkunganpun berubah dan, berlangsunglah proses seleksi alam. Jerapah berleher pendek tidak dapat mencari makan dengan menjangkau daun-daun di pohon sehingga tidak bisa bertahan hidup. Sebaliknya jerapah berleher panjang tetap dapat memperoleh makanan dari daun-daun di pohon sehingga dapat bertahan hidup. Karena mampu bertahan hidup maka jerapah tersebut mampu berbiak dan mewariskan sifat adaptif yaitu leher panjang pada generasi berikut. Itulah sebabnya semua jerapah sekarang berleher panjang.
Contoh yang kedua dari makhluk hidup yang mengalami evolusi karena adaptasi lingkungan adalah burung Finch yang terdapat di Kepulauan Galapagos semula berasal dari satu spesies burung yang ada di daratan Amerika Selatan, yang bermigrasi ke Kepulauan Galapagos. Variasi terjadi akibat kondisi geografis dan lingkungan, terutama makanan sehingga mengakibatkan keturunan burung Finch (pipit) mengalami perubahan morfologi/bentuk dan fungsi. Perubahan yang terjadi misalnya pada bentuk paruh. Paruh burung Finch yang semula tebal dan kuat yang sesuai untuk memakan biji-bijian mengalami perubahan menjadi paruh untuk memakan serangga (peruh tebal, lurus, dan berlidah pendek) dan memakan madu (berparuh lurus agak panjang).
Sebagai pembanding dengan teori Lamarck, panjang leher jerapah dapat dijelaskan dengan teori Darwin sebagai berikut. Nenek moyang jerapah punya variasi panjang leher, ada yang berleher pendek dan ada yang berleher panjang. Karena terjadi bencana kekeringan, lingkunganpun berubah dan, berlangsunglah proses seleksi alam. Jerapah berleher pendek tidak dapat mencari makan dengan menjangkau daun-daun di pohon sehingga tidak bisa bertahan hidup. Sebaliknya jerapah berleher panjang tetap dapat memperoleh makanan dari daun-daun di pohon sehingga dapat bertahan hidup. Karena mampu bertahan hidup maka jerapah tersebut mampu berbiak dan mewariskan sifat adaptif yaitu leher panjang pada generasi berikut. Itulah sebabnya semua jerapah sekarang berleher panjang.
Contoh yang kedua dari makhluk hidup yang mengalami evolusi karena adaptasi lingkungan adalah burung Finch yang terdapat di Kepulauan Galapagos semula berasal dari satu spesies burung yang ada di daratan Amerika Selatan, yang bermigrasi ke Kepulauan Galapagos. Variasi terjadi akibat kondisi geografis dan lingkungan, terutama makanan sehingga mengakibatkan keturunan burung Finch (pipit) mengalami perubahan morfologi/bentuk dan fungsi. Perubahan yang terjadi misalnya pada bentuk paruh. Paruh burung Finch yang semula tebal dan kuat yang sesuai untuk memakan biji-bijian mengalami perubahan menjadi paruh untuk memakan serangga (peruh tebal, lurus, dan berlidah pendek) dan memakan madu (berparuh lurus agak panjang).
B. Penemuan Unsur yang Berguna bagi
Kehidupan
Antibiotik Baru ditemukan dari Lautan
Sebuah senyawa antibiotik yang baru dan tidak biasa yang diambil dari
sebuah mikroorganisme laut ditemukan di endapan pesisir California.
Penemuan antibiotik yang asli sangat jarang dan para ahli mengatakan
resistensi terhadap obat-obatan tersebut merupakan ancaman kesehatan manusia.
Para ahli sains AS mengatakan senyawa baru, disebut anthracimycin, tampaknya dapat efektif membunuh
bakteri MRSA dan anthrax.
Rincian mengenai temuan antibiotik tersebut dipublikasikan dalam Jurnal
Angewandte Chemie, Jerman.
Struktur kimia yang unik dari senyawa tersebut dapat menjadi golongan
obat antibiotik yang baru.
Thomas Frieden, Direktur Pusat Pengawasan dan Perlindungan Penyebaran
Penyakit AS, baru-baru ini memperingatkan "mimpi buruk" resistensi
bakteri terhadap antibiotik. Sementara pejabat kesehatan AS Sally Davies,
menggambarkan kondisi tersebut sebagai "bom waktu" yang dapat
mengancam keamanan nasional.
Potensi Lautan
Struktur dari anthracimycin,
seperti dijelaskan oleh Kyoung Hwa Jang dan karyawan dari Scripps dalam
tulisan mereka, tak sama dengan antibiotik alami yang ada sebelumnya.
Senyawa dalam tulisan mereka, tak sama dengan antibiotik alami yang ada
sebelumnya.
Senyawa yang berasal dari Steptomyces
bacteri yang diambil oleh Christopher Kauffman di endapan samudera Pasifik.
Pemimpin tim penelitian, William Fenical, menyampaikan komentarnya:
"Yang penting dari pekerjaan ini adalah anthracimycin memiliki struktur kimia yang baru dan
unik. Penemuan senyawa kimia ini sangat jarang. Penemuan ini menambah temuan
sebelumnya yang menunjukan bahwa bakteri lautan memiliki kandungan genetik dan
secara kimia unik."
Uji terhadap senyawa antibiotik telah menunjukan efektivitasnya dalam
menyerang anthrax. Dan juga menunjukan aktivitas yang signifikan dalam melawan Staphylococcusaureus,
MRSA>
Penemuan ini menunjukan potensi sumber material dan senyawa baru
ditawarkan oleh lautan, sangat banyak.
Daftar Pustaka:
No comments:
Post a Comment